Search This Blog

Saturday, October 20, 2012

Sakit Hati


Sakit Hati

oleh: Amang B.


Tubuhku kering, katanya tinggal tulang sama kentut. Ada segerombol sakit kulit di belakang tubuhku, itu sebabnya aku tak pernah berani membiarkan wanita berada di belakangku. Jika gatalnya sedang kambuh, aku berdiri memunggungi tiang, tiang apa saja, bergerak naik turun dan merasakan kenikmatan tersendiri dari renyam yang menyerang kulitku. Kematianku datang dengan hepatitis, itulah yang membunuhku, kata dokter yang tak bisa memberi semangat untuk sembuh.



“Bapak punya anak istri?” tanya dokter itu, jelas tidak relevan. Aku menggeleng. “Itu bukan masalah.” Benar-benar tidak relevan. “Bapak terlalu banyak jajan yang tidak hegienis.”

“Ini penyakit kelamin, dok?” Ini jelas pertanyaan memalukan. Dokter nyaris tertawa.

“Boleh jadi karena piring, gelas atau apa saja yang bapak gunakan kurang bersih, bapak terjangkit hepatitis. Ini menular, kalau ada rencana punya istri sebaiknya tidak berbagi tempat yang sama, gunakan kondom saat melakukan hubungan badan.”

Itu bukan masalah. “Parah, dok?”

“Saya kasih resep generik, tidak mahal.” Dokter itu membenahi stetoskop dan memintal selang hitam dengan gulungan hitam yang baru saja dililitkan di lenganku. Aku tak tahu itu apa. “Silahkan, sudah selesai. Saya anjurkan datang ke apotek Satria, katakan bapak masih famili dokter Abidin. Bapak akan mendapatkan harga khusus.”

“Ongkos periksanya berapa, dokter?”

“Tidak usah. Nanti di depan, katakan kalau bapak masih dari keluarga istri Pak Abidin.”

“Tapi saya mau bayar, dok.” Dokter itu tersenyum, mengulumnya dan menepukkan tangan dengan lembut di bahuku.

“Pasien yang lain sudah menunggu, mari…”

Aku plingak-plinguk dan keluar dengan lugu. Seorang perempuan berpakaian putih yang semula mendaftarku, mengabaikan saja saat aku berlalu dan keluar meninggalkan rumah putih dengan atap genteng yang juga dicat warna putih.

Aku lupa bertanya, sakit hepatitis itu apa. Jadi ini salahnya warung nasi yang tak pernah sampai bersih mencuci piringnya? Bangsat. Pantas saja tubuhku tetap kering, orang aku membeli nasinya campur penyakit. Tapi masa mak Ijah jahat begitu, dia baik denganku biar seringkali aku datang dengan mengutang. Atau rumah yang sering kudatangi dan selalu mengajakku makan, Kang Edi yang tukang bako, Dalimin yang tukang kayu? Mereka baik, juga istri-istrinya. Tapi kenapa cuma aku, yang lain kayak si gembel, si Jalu atau si Ableh yang malah yang paling gembel, kok sehat-sehat saja? tapi jangan-jangan ini memang penyakit kelamin?

Saat aku berbalik kearah rumah dokter, sudah banyak orang berderet mengantri di teras rumahnya. Sebagian ada yang masih berjalan melewati gang yang melintang di antara kolam-kolam ikan yang kata orang masih kepunyaan dokter itu. Ah, tak akan rugi memang, itu kenapa dia tak minta ongkos periksa dariku. Aku mengurungkan maksud untuk bertanya tentang hepatitis itu.

Keluar dari gang, melewati alun-alun kecamatan, tinggal lima ratus meter untuk sampai ke apotek. Aku merasa kecapekan, memanggil tukang becak yang biasanya berebut penumpang. Satu dari sederetan becak itu datang dengan santai, orang yang membawanya jauh lebih tua dari aku.

“Ke apotek berapa perak, bang?”

“Naik saja!” Mungkin itu artinya terserah. Tanpa banyak omong dia memutar becak dan menunggingkannya dengan kasar. “Sakitmu apa?”

“Ya, bang?” Aku heran, kok dia tahu kalau aku lagi sakit. “Hepatitis, katanya. Tahu apa itu, bang?”

“Apa?”

“Hepatitis.”

“Ooh, nggak. Penyakit apa lagi itu?”

Sampai di apotek, aku merogoh saku. Tukang becak itu membunyi tak usah dan langsung memutar becaknya. Aku bengong saja. Nyaris kelupaan kalau aku mau membeli obat jika saja tidak kepanasan dengan terik matahari. Saat berbalik, ada beberapa orang menyapa dan tersenyum di deretan kursi tunggu. Aku pikir, itu orang yang juga habis diperiksa di tempat dokter Abidin. Selesai dengan memberikan resep dokter, aku mencari tempat duduk.

“Mari…” Seorang laki-laki paruh baya menggeser plastik putih dan dengan susah payah menggendong anak kecil yang semula duduk di kursi sebelahnya. Wajahnya tampak sekarat.

“Siapa yang sakit?” Aku bertanya, alih-alih berterima kasih.

Orang itu batuk-batuk kecil, anak yang digendongnya bergelinjang minta turun dari pangkuan. “Sa…, saya.” Jelas benar kalau dia memang sedang sekarat. “Adik sakit apa?”

“Kata dokter, hepatitis.” Aku katakan sambil nyengir karena merasa tidak faham dengan nama penyakitku sendiri. Orang itu, masih dengan susah payah, tersenyum.

“Dari dokter Abidin?” Tanya dia. Aku mengangguk pelan, memalingkan pandangan pada orang-orang apotek yang pada sibuk. “Dokter Abidin itu bagus. Diagnosanya tak pernah salah, kalau kasih resep pasti obatnya cocok.” Lalu dia bercerita tentang keluarganya yang sudah menjadi pelanggan dokter Abidin, bercerita tentang siapa saja dari keluarganya yang pernah jatuh sakit sampai akhirnya tentang dia sendiri yang sekarang sudah bulan ketiga menjalani pengobatan. Seorang perempuan, jauh lebih muda darinya datang menghampiri. Rupanya dia sudah mendapatkan obatnya dan berpamitan. Dia menyalamiku, juga perempuan itu yang ternyata menantunya. Tak lama kemudian, seorang perempuan yang tak jauh lebih tua duduk di sampingku dan bertanya ini itu yang nyaris sama dengan pertanyaan orang tadi.

Saat seorang lelaki dengan suara berat memanggil namaku, aku mencari asal suara itu.

“Di sini, pak Anwar.” Orang itu melambaikan tangan, ada di sudut ruangan. “Ini obatnya…,” Lalu menjelaskan kapan saja aku harus meminumnya. Aku bermaksud menanyakan penyakit apa hepatitis itu, tetapi tercenung saat orang itu mengatakan; “bapak tak harus membayar obat-obatan ini, sudah ditanggung sama dokter Abidin.”

“Kok?” tentu dengan lugu aku bertanya, sementara aku belum mengatakan sesuatu seperti dipesankan dokter kalau aku ini masih dari kerabatnya.

“Ini, ada memonya di resep bapak tadi.” Dia menunjukkan kertas resep itu. aku membunyi oh, apoteker itu mengangguk dengan tersenyum. “Sudah, tak ada apa lagi? Mari…”

“Oh, ya. Mari…, mari.” Dan aku lupa bagaimana mengucapkan kata terima kasih.

Saat aku pulang, aku lihat anaknya Dalimin duduk di depan pintu rumah gubukku. Aku bertanya ada apa, katanya dia disuruh mak-nya mengantar makanan sambil menunjukkan bingkisan besar plastik hitam.

“Om Anwar punya air minum?” Tanya dia. Aku membunyi ada. “Air panas?” Saat aku masuk, dia berdiri saja di pintu. Matanya berputar-putar, menyimak apa saja yang ada di dalam. Aku tidak menyahut. “Kata Mama, kalau om Anwar tak punya air panas aku disuruh membawakan termosnya ke rumah.”

“Sudah, nggak usah, Lastri.”

“Kata mama Lastri harus membawanya, Om.” Dan dia mengambil termos yang tak jauh berada di dekat pintu kemudian berlalu tanpa menunggu aku menyetujui. Tak lama kemudian dia kembali dan dengan buru-buru mengatakan kalau orang tuanya akan datang menjenguk sore harinya.

“Sudah ya, Om, Lastri mau main dulu.” Anak itu berlari keluar pintu, aku tak jadi mengatakan terima kasih untuk disampaikan sama orang tuanya.

Aku menghela nafas, hari ini melelahkan. Lalu menyadari kalau uang seratus ribu dari kantor pos yang tadinya akan kupakai untuk berobat masih utuh. Hmm, aku merasa bukannya sedang beruntung. Tiba-tiba berpikir tentang Lastri yang di kejauhan terdengar berteriak-teriak memanggil temannya, aku ingin bertanya sekarang ini hari apa.

Suara anak itu terdengar menjauh, lalu menghilang. Aku rasa ini adalah memang hari yang melelahkan. Aku merasa butuh seseorang, tersenyum ketir saat melihat tak ada gelas bersih untuk minum. Menengok ke arah jam dinding, aku tersadar kalau sejak dua minggu kemarin jam itu tak bergerak alias mati. Aku perkirakan hari sudah hampir jam dua siang. Merasa lelah, aku rebahan di atas kursi rotan.

Dengan setengah mengantuk aku menyadari sesuatu. Rasa ngilu di dada, sakit di kepala atau rasa lemah yang sebelumnya selalu menyerang tak lagi menyerangku. Ha! Barangkali dokter itu memang ampuh. Aku tersenyum, berpikir untuk tidur sebentar sampai nanti Dalimin sama istrinya datang. mereka akan membangunkan aku tentunya.

Pada detik-detik aku melelap, diam-diam aku mencurigai kebaikan semua orang yang kujumpai hari ini.

“Hmm…, mereka menginginkan hidupku…”

***

Sore hari, Dalimin datang sendiri karena istrinya disibukkan dengan kumpulan arisan PKK. Dia melihat makanan yang siang harinya diantarkan Lastri belum lagi disentuh, kantong plastik putih berisi obat masih terikat utuh. Dengan tenang dia membunyi pelan, “kasihan sekali kau, Anwar.” Katanya setelah yakin kalau sosok di depannya tak lagi bernafas.

Jogjakarta, 2005

Pantai Sayang Heulang


CANTIKNYA PAKIDULAN
Oleh: Amang B.
 Pantai Sayang Heulang

Yang terlintas pertamakali saat seseorang bercerita tentang Pameungpeuk (baca: Garut Selatan) adalah pantai laut selatan. Bahkan salah satu trayek angkutan dari kota Garut menuju wilayah selatan identik dan seringkali menyebutkan tujuan angkutan dengan kata “laut”. Dan, secara umum wilayah Garut Selatan secara kese-luruhan memang bersentuhan dengan pantai laut selatan samudera Hindia.

Identifikasi ter-sebut bukanlah ka-rena alasan geo-grafis semata, me-lainkan keindahan pantai yang terdapat di sepanjang pesisir lautnya memang tidak dapat dipisahkan dengan kesan yang tumbuh dalam benak setiap pelancong yang datang ke Garut Selatan.

Pantai Sayang Heulang, sebagai contoh, yang terdapat di Desa Mancagahar Kecamatan Pameungpeuk. Dengan hamparan pasir putih disambung dengan bentang karang yang menjorok jauh ke lautan seringkali mengkondisikan perairan dangkal yang cukup luas. Di saat air sedang surut, kita dapat berjalan jauh menelusuri hamparan karang tersebut jauh dari bibir pantai. Bila kebetulan malam hari dan air sedang surut, di perairan dangkal itu dapat dilakukan aktifitas menyuluh, cara menangkap ikan laut yang relatif mudah.

Di sisi terjauh pantai Sayang Heulang terdapat fenomena unik yang terdapat di muara yang mempertemukan sungai Cilautereun dengan laut lepas, yaitu berupa saluran yang mengalirkan air laut ke badan sungai. Air tersebut tidak pernah berbalik arah, bahkan di saat kondisi air sungai sedang meluap, sehingga membentuk siklus perputaran air yang seterusnya mengalir bersama air sungai tersebut kembali ke laut lepas. (bersambung)

Saturday, September 29, 2012

Audit Sosial; Rakyat Bertindak Sendiri

Seorang sahabat mengatakan, apa lagi yang dapat kita harapkan di sini sementara kata-kata diberangus, nilai diperkosa oleh pragmatisme dan kebaikan dipahami sebagai kompensasi alih-alih hak dan kewajaran menjadi hal yang sulit bahkan untuk sekedar dibicarakan. Contoh, sebagai warga negara (baca: rakyat; untuk mengatakan orang-orang miskin di negeri ini) cenderung dijejali dengan berbagai kewajiban yang harus dipenuhinya sementara hak-haknya disembunyikan oleh orang yang konon seharusnya membela. Atas nama orang-orang miskin, konon suatu kedaulatan lahir dan kita masih bertanya-tanya sampai di manakah?
Kita berupaya, oleh karena itu tercipta hukum dan lain-lainnya menyangkut penyelenggaraan negara ini. Semakin elok upaya-upaya itu, tampaknya justru semakin akrab saja dengan keadaan sebaliknya dari yang kita harapkan.
Rakyat bertindak sendiri; ini menyerupai kata-kata main hakim sendiri. Barangkali seperti inilah yang dapat kita coba; Audit Sosial dan Upaya Mendorong Akuntabilitas Pembangunan; selengkapnya dapat dilihat di sini:
http://www.tifafoundation.org/index.php?comp=home.detail.25&lang=id