Sakit
Hati
oleh:
Amang B.
Tubuhku kering, katanya tinggal
tulang sama kentut. Ada segerombol sakit kulit di belakang tubuhku, itu
sebabnya aku tak pernah berani membiarkan wanita berada di belakangku. Jika
gatalnya sedang kambuh, aku berdiri memunggungi tiang, tiang apa saja, bergerak
naik turun dan merasakan kenikmatan tersendiri dari renyam yang menyerang
kulitku. Kematianku datang dengan hepatitis, itulah yang membunuhku, kata
dokter yang tak bisa memberi semangat untuk sembuh.
“Bapak punya anak istri?” tanya dokter itu, jelas tidak relevan. Aku
menggeleng. “Itu bukan masalah.” Benar-benar tidak relevan. “Bapak terlalu
banyak jajan yang tidak hegienis.”
“Ini penyakit kelamin, dok?” Ini jelas pertanyaan memalukan. Dokter
nyaris tertawa.
“Boleh jadi karena piring, gelas atau apa saja yang bapak gunakan kurang
bersih, bapak terjangkit hepatitis. Ini menular, kalau ada rencana punya istri
sebaiknya tidak berbagi tempat yang sama, gunakan kondom saat melakukan
hubungan badan.”
Itu bukan masalah. “Parah, dok?”
“Saya kasih resep generik, tidak
mahal.” Dokter itu membenahi stetoskop dan memintal selang hitam dengan
gulungan hitam yang baru saja dililitkan di lenganku. Aku tak tahu itu apa.
“Silahkan, sudah selesai. Saya anjurkan datang ke apotek Satria, katakan bapak
masih famili dokter Abidin. Bapak akan mendapatkan harga khusus.”
“Ongkos periksanya berapa, dokter?”
“Tidak usah. Nanti di depan, katakan kalau bapak masih dari keluarga
istri Pak Abidin.”
“Tapi saya mau bayar, dok.” Dokter itu tersenyum, mengulumnya dan
menepukkan tangan dengan lembut di bahuku.
“Pasien yang lain sudah menunggu, mari…”
Aku plingak-plinguk dan keluar dengan lugu. Seorang perempuan berpakaian
putih yang semula mendaftarku, mengabaikan saja saat aku berlalu dan keluar
meninggalkan rumah putih dengan atap genteng yang juga dicat warna putih.
Aku lupa bertanya, sakit hepatitis itu apa. Jadi ini salahnya warung nasi
yang tak pernah sampai bersih mencuci piringnya? Bangsat. Pantas saja tubuhku
tetap kering, orang aku membeli nasinya campur penyakit. Tapi masa mak Ijah
jahat begitu, dia baik denganku biar seringkali aku datang dengan mengutang.
Atau rumah yang sering kudatangi dan selalu mengajakku makan, Kang Edi yang
tukang bako, Dalimin yang tukang kayu? Mereka baik, juga istri-istrinya. Tapi
kenapa cuma aku, yang lain kayak si gembel, si Jalu atau si Ableh yang malah
yang paling gembel, kok sehat-sehat saja? tapi jangan-jangan ini memang
penyakit kelamin?
Saat aku berbalik kearah rumah dokter, sudah banyak orang berderet
mengantri di teras rumahnya. Sebagian ada yang masih berjalan melewati gang
yang melintang di antara kolam-kolam ikan yang kata orang masih kepunyaan
dokter itu. Ah, tak akan rugi memang, itu kenapa dia tak minta ongkos periksa
dariku. Aku mengurungkan maksud untuk bertanya tentang hepatitis itu.
Keluar dari gang, melewati alun-alun kecamatan, tinggal lima ratus meter
untuk sampai ke apotek. Aku merasa kecapekan, memanggil tukang becak yang
biasanya berebut penumpang. Satu dari sederetan becak itu datang dengan santai,
orang yang membawanya jauh lebih tua dari aku.
“Ke apotek berapa perak, bang?”
“Naik saja!” Mungkin itu artinya terserah. Tanpa banyak omong dia memutar
becak dan menunggingkannya dengan kasar. “Sakitmu apa?”
“Ya, bang?” Aku heran, kok dia tahu kalau aku lagi sakit. “Hepatitis,
katanya. Tahu apa itu, bang?”
“Apa?”
“Hepatitis.”
“Ooh, nggak. Penyakit apa lagi itu?”
Sampai di apotek, aku merogoh saku. Tukang becak itu membunyi tak usah
dan langsung memutar becaknya. Aku bengong saja. Nyaris kelupaan kalau aku mau
membeli obat jika saja tidak kepanasan dengan terik matahari. Saat berbalik,
ada beberapa orang menyapa dan tersenyum di deretan kursi tunggu. Aku pikir,
itu orang yang juga habis diperiksa di tempat dokter Abidin. Selesai dengan
memberikan resep dokter, aku mencari tempat duduk.
“Mari…” Seorang laki-laki paruh baya menggeser plastik putih dan dengan
susah payah menggendong anak kecil yang semula duduk di kursi sebelahnya.
Wajahnya tampak sekarat.
“Siapa yang sakit?” Aku bertanya, alih-alih berterima kasih.
Orang itu batuk-batuk kecil, anak yang digendongnya bergelinjang minta
turun dari pangkuan. “Sa…, saya.” Jelas benar kalau dia memang sedang sekarat.
“Adik sakit apa?”
“Kata dokter, hepatitis.” Aku katakan sambil nyengir karena merasa tidak
faham dengan nama penyakitku sendiri. Orang itu, masih dengan susah payah,
tersenyum.
“Dari dokter Abidin?” Tanya dia. Aku mengangguk pelan, memalingkan
pandangan pada orang-orang apotek yang pada sibuk. “Dokter Abidin itu bagus.
Diagnosanya tak pernah salah, kalau kasih resep pasti obatnya cocok.” Lalu dia
bercerita tentang keluarganya yang sudah menjadi pelanggan dokter Abidin,
bercerita tentang siapa saja dari keluarganya yang pernah jatuh sakit sampai akhirnya
tentang dia sendiri yang sekarang sudah bulan ketiga menjalani pengobatan.
Seorang perempuan, jauh lebih muda darinya datang menghampiri. Rupanya dia
sudah mendapatkan obatnya dan berpamitan. Dia menyalamiku, juga perempuan itu
yang ternyata menantunya. Tak lama kemudian, seorang perempuan yang tak jauh
lebih tua duduk di sampingku dan bertanya ini itu yang nyaris sama dengan
pertanyaan orang tadi.
Saat seorang lelaki dengan suara berat memanggil namaku, aku mencari asal
suara itu.
“Di sini, pak Anwar.” Orang itu melambaikan tangan, ada di sudut ruangan.
“Ini obatnya…,” Lalu menjelaskan kapan saja aku harus meminumnya. Aku bermaksud
menanyakan penyakit apa hepatitis itu, tetapi tercenung saat orang itu
mengatakan; “bapak tak harus membayar obat-obatan ini, sudah ditanggung sama
dokter Abidin.”
“Kok?” tentu dengan lugu aku bertanya, sementara aku belum mengatakan
sesuatu seperti dipesankan dokter kalau aku ini masih dari kerabatnya.
“Ini, ada memonya di resep bapak tadi.” Dia menunjukkan kertas resep itu.
aku membunyi oh, apoteker itu mengangguk dengan tersenyum. “Sudah, tak ada apa
lagi? Mari…”
“Oh, ya. Mari…, mari.” Dan aku lupa bagaimana mengucapkan kata terima
kasih.
Saat aku pulang, aku lihat anaknya Dalimin duduk di depan pintu rumah
gubukku. Aku bertanya ada apa, katanya dia disuruh mak-nya mengantar makanan
sambil menunjukkan bingkisan besar plastik hitam.
“Om Anwar punya air minum?” Tanya dia. Aku membunyi ada. “Air panas?”
Saat aku masuk, dia berdiri saja di pintu. Matanya berputar-putar, menyimak apa
saja yang ada di dalam. Aku tidak menyahut. “Kata Mama, kalau om Anwar tak
punya air panas aku disuruh membawakan termosnya ke rumah.”
“Sudah, nggak usah, Lastri.”
“Kata mama Lastri harus membawanya, Om.” Dan dia mengambil termos yang
tak jauh berada di dekat pintu kemudian berlalu tanpa menunggu aku menyetujui.
Tak lama kemudian dia kembali dan dengan buru-buru mengatakan kalau orang
tuanya akan datang menjenguk sore harinya.
“Sudah ya, Om, Lastri mau main dulu.” Anak itu berlari keluar pintu, aku
tak jadi mengatakan terima kasih untuk disampaikan sama orang tuanya.
Aku menghela nafas, hari ini melelahkan. Lalu menyadari kalau uang
seratus ribu dari kantor pos yang tadinya akan kupakai untuk berobat masih
utuh. Hmm, aku merasa bukannya sedang beruntung. Tiba-tiba berpikir tentang
Lastri yang di kejauhan terdengar berteriak-teriak memanggil temannya, aku
ingin bertanya sekarang ini hari apa.
Suara anak itu terdengar menjauh, lalu menghilang. Aku rasa ini adalah
memang hari yang melelahkan. Aku merasa butuh seseorang, tersenyum ketir saat
melihat tak ada gelas bersih untuk minum. Menengok ke arah jam dinding, aku
tersadar kalau sejak dua minggu kemarin jam itu tak bergerak alias mati. Aku
perkirakan hari sudah hampir jam dua siang. Merasa lelah, aku rebahan di atas
kursi rotan.
Dengan setengah mengantuk aku menyadari sesuatu. Rasa ngilu di dada,
sakit di kepala atau rasa lemah yang sebelumnya selalu menyerang tak lagi
menyerangku. Ha! Barangkali dokter itu memang ampuh. Aku tersenyum, berpikir
untuk tidur sebentar sampai nanti Dalimin sama istrinya datang. mereka akan
membangunkan aku tentunya.
Pada detik-detik aku melelap, diam-diam aku mencurigai kebaikan semua
orang yang kujumpai hari ini.
“Hmm…, mereka menginginkan hidupku…”
***
Sore hari, Dalimin datang sendiri karena istrinya disibukkan dengan
kumpulan arisan PKK. Dia melihat makanan yang siang harinya diantarkan Lastri
belum lagi disentuh, kantong plastik putih berisi obat masih terikat utuh.
Dengan tenang dia membunyi pelan, “kasihan sekali kau, Anwar.” Katanya setelah
yakin kalau sosok di depannya tak lagi bernafas.
Jogjakarta, 2005