Pada suatu sore seorang lelaki
berperawakan tegap berteriak kepada kawanan anak usia sekolah dasar yang
bergerombol menuju suatu tempat. "Woi, kade tong poho maenbal nya!"[i]
begitu pesannya sambil melongok dari dalam kedai kopi. Rupanya ia tengah
menikmati kopi bersama beberapa orang sebayanya yang salah satunya ternyata
seorang guru ngaji.
Sang guru ngaji berkomentar, “Wualah, seperti
orang nyuruh shalat saja.”
Demikianlah sosok Ersa Yogaswara (34) yang
cukup dikenal orang cukup serius mengupayakan pengembangan persebakbolaan di
Garut Selatan. Sudah lebih dari empat tahun ia membina sebuah klub sepak bola
yang melibatkan sekumpulan anak-anak di Desa Jatimulya Kec. Pameungpeuk.
Bersama sekumpulan anak muda ia mendirikan Jampang FC (JFC) dan dengan bermodal
semangat yang tak kenal lelah dirintisnya latihan rutin dan penerapan disiplin
anggota klub.
Berselang beberapa tahun rupanya Ersa
Yogaswara mengalami semacam kegelisahan dalam hal apa yang diperjuangkannya
tersebut. “Pandangan bahwa sepakbola itu tidak dapat memberikan apa-apa masih
melekat kuat di benak masyarakat kita.” (Garut Selatan – pen.). Hal itu dikatakannya
sehubungan dengan banyaknya kendala yang dihadapinya dalam rangkaian kegiatan
pembinaan terhadap anggota klubnya. Disiplin latihan yang sulit ditumbuhkan, kurangnya
dukungan para orang tua atau aparat terkait, ketersediaan sarana dan prasarana
dan lain-lainnya termasuk ketersediaan anggaran, semua itu dipaparkannya kurang
lebih satu tahun lalu.
Setelah berkonsultasi dengan berbagai
pihak yang berkompeten, akhirnya ia mengambil satu langkah strategis dalam
perjuangannya. Pada tahun 2013, berangkat dari perkumpulan klub sepakbola yang
selama ini diseriusinya, didirikanlah satu sekolah sepakbola bernama SSB-JFC. Sampai
saat ini, SSB tersebut sudah merekrut lebih dari 80 orang siswa yang diterima.
Hal ini cukup mengagumkan mengingat penerimaan siswa SSB itu sendiri baru
dibuka di akhir tahun 2013 ini, dan
dalam proses pendirian dan pelaksanaan berbagai kegiatan pembukaan dilakukan
dengan sangat sederhana.
Ersa Yogaswara didaulat sebagai kepala
sekolah di SSB ini. Dengan bermodal 5 buah bola yang sebagiannya kondisinya
tidak bagus, ia memulai rangkaian kegiatan pembinaan siswa barunya. Cones
yang digunakan sebagai media berlatih dibuat dari bola plastik yang dibelah dan
dideretkan sedemikian rupa. Dan rupanya, ia cukup mampu menumbuhkan semangat
yang tinggi bagi siswanya dalam berlatih.
Berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas
dan kapasitas pembinaan secara terus-menerus dilakukan Ersa bersama beberapa
orang yang terlibat dalam kepengurusan SSB. Ia mencoba membangun komunikasi
dengan berbagai intansi terkait, pihak-pihak yang berkompeten dan memiliki
perhatian terhadap pengembangan sepakbola di Garut Selatan, dan ia terkesan
cukup keras dalam menanamkan disiplin terutama terhadap para pengurus SSB. “Jangan
bermimpi bisa mencapai keberhasilan kalau tidak ada keseriusan dari kita
sendiri,” demikian selalu dikatakan kepada para pengurus dan tim pelatihnya.
foto: www.facebook.com/Ssbjfc.garsel
Di Garut Selatan SSB JFC bukanlah
satu-satunya SSB yang didirikan belakangan ini. Hampir secara serentak beberapa
SSB lain juga berdiri dan Ersa menanggapinya seperti ini, “saya cukup senang
dengan itu. Berarti ada banyak kesempatan bagi kita untuk dapat mengembangkan
bakat-bakat muda yang nantinya dapat menorehkan prestasi olahraga warga Garut
Selatan. Dengan prestasi tersebut, banyak hal-hal positif yang akan didapatkan
nanti apakah oleh pemain atau untuk daerahnya. Lebih jauh lagi saya berharap
kita dapat mencetak calon-calon pemain nasional dari Garut Selatan ini.” Katanya
dengan sungguh-sungguh.
“Atau pemain dunia, kita harus bisa!”
katanya sambil tertawa, tapi ia tidak tampak sedang bercanda dengan
pernyataannya itu.
Dan saat ini, bersama para pegiat
pembinaan olah raga sepakbola di Kec. Pameungpeuk, ia sedang memfasilitasi
seleksi pemain dari Tim KOK Pameungpeuk. “Kita harus serius dengan itu, jangan
asal memilih pemain. Jangan karena anak pejabatlah, relasi tertentu atau klub
tertentu saja yang ditunjuk seenaknya. Dengan seleksi seperti ini artinya kita
membuka kesempatan bagi bakat-bakat muda untuk menunjukkan kemampuan dan
prestasinya dalam olah raga yang paling populer di dunia ini,” katanya.
Tambahnya pula, kita sebenarnya cukup
memiliki banyak potensi yang dapat memajukan bangsa ini termasuk dalam hal
bakat-bakat pesepakbola. Namun tidak jarang bakat-bakat itu terkubur karena sistem
yang tidak sehat dan korup dalam upaya pembinaan, seleksi pemain atau
keseriusan kita sendiri.
Memang tidak jarang didengar, banyak pihak
yang dikecewakan dalam perekrutan pemain karena nuansa yang cukup kental dalam
segala aspek kehidupan di negeri kita ini, yakni sistem yang korup. Padahal olah
raga adalah satu wilayah yang sangat mengedepankan kejujuran (baca:
sportifitas)
(Beunta 2014 – Amang B.)
No comments:
Post a Comment