Search This Blog

Saturday, April 5, 2014

Ulah Poho Maenbal...!


Pada suatu sore seorang lelaki berperawakan tegap berteriak kepada kawanan anak usia sekolah dasar yang bergerombol menuju suatu tempat. "Woi, kade tong poho maenbal nya!"[i] begitu pesannya sambil melongok dari dalam kedai kopi. Rupanya ia tengah menikmati kopi bersama beberapa orang sebayanya yang salah satunya ternyata seorang guru ngaji.
Sang guru ngaji berkomentar, “Wualah, seperti orang nyuruh shalat saja.”
Demikianlah sosok Ersa Yogaswara (34) yang cukup dikenal orang cukup serius mengupayakan pengembangan persebakbolaan di Garut Selatan. Sudah lebih dari empat tahun ia membina sebuah klub sepak bola yang melibatkan sekumpulan anak-anak di Desa Jatimulya Kec. Pameungpeuk. Bersama sekumpulan anak muda ia mendirikan Jampang FC (JFC) dan dengan bermodal semangat yang tak kenal lelah dirintisnya latihan rutin dan penerapan disiplin anggota klub.
Berselang beberapa tahun rupanya Ersa Yogaswara mengalami semacam kegelisahan dalam hal apa yang diperjuangkannya tersebut. “Pandangan bahwa sepakbola itu tidak dapat memberikan apa-apa masih melekat kuat di benak masyarakat kita.” (Garut Selatan – pen.). Hal itu dikatakannya sehubungan dengan banyaknya kendala yang dihadapinya dalam rangkaian kegiatan pembinaan terhadap anggota klubnya. Disiplin latihan yang sulit ditumbuhkan, kurangnya dukungan para orang tua atau aparat terkait, ketersediaan sarana dan prasarana dan lain-lainnya termasuk ketersediaan anggaran, semua itu dipaparkannya kurang lebih satu tahun lalu.
Setelah berkonsultasi dengan berbagai pihak yang berkompeten, akhirnya ia mengambil satu langkah strategis dalam perjuangannya. Pada tahun 2013, berangkat dari perkumpulan klub sepakbola yang selama ini diseriusinya, didirikanlah satu sekolah sepakbola bernama SSB-JFC. Sampai saat ini, SSB tersebut sudah merekrut lebih dari 80 orang siswa yang diterima. Hal ini cukup mengagumkan mengingat penerimaan siswa SSB itu sendiri baru dibuka di akhir tahun 2013 ini,  dan dalam proses pendirian dan pelaksanaan berbagai kegiatan pembukaan dilakukan dengan sangat sederhana.
Ersa Yogaswara didaulat sebagai kepala sekolah di SSB ini. Dengan bermodal 5 buah bola yang sebagiannya kondisinya tidak bagus, ia memulai rangkaian kegiatan pembinaan siswa barunya. Cones yang digunakan sebagai media berlatih dibuat dari bola plastik yang dibelah dan dideretkan sedemikian rupa. Dan rupanya, ia cukup mampu menumbuhkan semangat yang tinggi bagi siswanya dalam berlatih.
Berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas pembinaan secara terus-menerus dilakukan Ersa bersama beberapa orang yang terlibat dalam kepengurusan SSB. Ia mencoba membangun komunikasi dengan berbagai intansi terkait, pihak-pihak yang berkompeten dan memiliki perhatian terhadap pengembangan sepakbola di Garut Selatan, dan ia terkesan cukup keras dalam menanamkan disiplin terutama terhadap para pengurus SSB. “Jangan bermimpi bisa mencapai keberhasilan kalau tidak ada keseriusan dari kita sendiri,” demikian selalu dikatakan kepada para pengurus dan tim pelatihnya.
foto: www.facebook.com/Ssbjfc.garsel
Di Garut Selatan SSB JFC bukanlah satu-satunya SSB yang didirikan belakangan ini. Hampir secara serentak beberapa SSB lain juga berdiri dan Ersa menanggapinya seperti ini, “saya cukup senang dengan itu. Berarti ada banyak kesempatan bagi kita untuk dapat mengembangkan bakat-bakat muda yang nantinya dapat menorehkan prestasi olahraga warga Garut Selatan. Dengan prestasi tersebut, banyak hal-hal positif yang akan didapatkan nanti apakah oleh pemain atau untuk daerahnya. Lebih jauh lagi saya berharap kita dapat mencetak calon-calon pemain nasional dari Garut Selatan ini.” Katanya dengan sungguh-sungguh.
“Atau pemain dunia, kita harus bisa!” katanya sambil tertawa, tapi ia tidak tampak sedang bercanda dengan pernyataannya itu.
Dan saat ini, bersama para pegiat pembinaan olah raga sepakbola di Kec. Pameungpeuk, ia sedang memfasilitasi seleksi pemain dari Tim KOK Pameungpeuk. “Kita harus serius dengan itu, jangan asal memilih pemain. Jangan karena anak pejabatlah, relasi tertentu atau klub tertentu saja yang ditunjuk seenaknya. Dengan seleksi seperti ini artinya kita membuka kesempatan bagi bakat-bakat muda untuk menunjukkan kemampuan dan prestasinya dalam olah raga yang paling populer di dunia ini,” katanya.
Tambahnya pula, kita sebenarnya cukup memiliki banyak potensi yang dapat memajukan bangsa ini termasuk dalam hal bakat-bakat pesepakbola. Namun tidak jarang bakat-bakat itu terkubur karena sistem yang tidak sehat dan korup dalam upaya pembinaan, seleksi pemain atau keseriusan kita sendiri.
Memang tidak jarang didengar, banyak pihak yang dikecewakan dalam perekrutan pemain karena nuansa yang cukup kental dalam segala aspek kehidupan di negeri kita ini, yakni sistem yang korup. Padahal olah raga adalah satu wilayah yang sangat mengedepankan kejujuran (baca: sportifitas)


(Beunta 2014 – Amang B.)



[i] “Hey, kalian jangan sampai lupa main sepakbola ya!”